refleksi

kenalkan, namaku cermin. padahal aku ingin menjadi cermin cembung; selalu melebih-lebihkan apa yang diberikan orang lain. saat ada yang memberiku sesuap nasi, aku ingin membalasnya dengan dua suap. bila aku menerima uluran sebuah tangan, aku ingin membantunya dengan kedua tangan. bahkan kalau perlu menggendongnya. tapi aku juga ingin seperti cermin cekung. mengecilkan, kalau bisa sih […]

batu, bom waktu, tajam, mengancam

kamu berucap: batu. bom waktu. tajam. mengancam. aku menanggap: ayo teruskan… apalagi? bukankah kita sama? kita? siapa kita? hanya seonggok daging yang membusuk tidakkah pernah ku bilang kita hanyalah jiwa-jiwa yang mencari jalan pulang? belum sempatkah aku berkata jalan yang mudah tak pernah ada? silaukah matamu melihat dunia? tulikah hatimu akan apa-apa yang ada di […]

getar itu

tunggu sebentar! rasanya ada getaran. tak banyak yang tahu sebelah sini. mungkin dia. ya, mungkin dia berusaha menghubungi aku. tapi aku tak bisa berhenti sekarang. aku harus meneruskan perjalanan ini. setibanya di tujuan barulah aku bisa melihatnya lagi. ah bukan, bukan getar itu. ternyata hanya pikiran-yang-menunggu.