Month: February 2009

gelas teh

oke, aku mengaku salah telah membuat lubang kecil di kepalanya. aku juga mengaku salah berpikiran untuk menancap tubuhnya dengan sisa beling gelas yang masih kupegang gagangnya sebelum akhirnya seseorang melerai kami.

saat itu aku sedang makan sendirian di pasar kaget. chicken teriyaki. menu sama yang jadi pilihanku 10 tahun lalu. tempat yang sama. entah kalau penjualnya berbeda. pasar ini sepi sebab hanya kagetan. pagi hari jadi pasar sayur, dan sembako, dan sebuah toko emas kecil. mungkinkah para penjual sayur itu yang berdagang makanan malam harinya? hmm bisa jadi…

setelah pesananku datang, aku mulai ritual dengan membuka batang sumpit yang dikondomi plastik. segelas teh manis hangat mendampingi; mengusir belai gerimis di perjalanan tadi. aku suka sekali teh manis hangat. disajikan dalam gelas kaca setinggi kira-kira 15 cm. hangat yang tidak mudah pergi apalagi cuaca dingin.

suap pertama dibuka sejumput sayuran-seperti-salad. lalu nasi. lalu daging yang masih mengepul. lalu nasi lagi. pada suap keempat, ya, aku ingat itu suap nasi keempat sebab masih terasa daging ayam di mulutku, seorang lelaki berdiri di sampingku. jaket hitamnya basah, mungkin habis kehujanan juga. tiba-tiba saja ia menepuk pundak kiri dan membentakku. oh rupanya ia menuduhku sebagai orang yang menyerempet sepeda motornya kemudian kabur. aku menjawab dengan tenang sambil menghabiskan sisa nasi di mulut. kujelaskan apa motorku, rute serta apa yang aku lakukan 2 jam terakhir, sesuai dengan cerita bentakannya. jelas-jelas bukan aku pelakunya. lagipula aku bukan jenis pengecut yang lari saat berbuat salah. tidak, bapak selalu mengajari untuk jadi lelaki yang selalu bertanggung jawab atas semua perbuatan.

lelaki yang aku duga sedikit lebih muda dari aku, mungkin 25, tetap ngotot bahwa dia mengenali motorku dan aku pelakunya. masih sabar aku jelaskan sekali lagi. dua kali. saat cerita ketigaku ia masih saja ngotot, aku gusar. sontak aku berdiri, berhadapan dengannya. otakku mulai berhitung. badannya lebih besar dariku. tinggi badan sama. mari kita lanjutkan, bung, ucapku dalam hati. kuraih gelas teh manis hangat dengan tangan kanan.

nada suaraku menanjak. aku bersikeras bahwa aku bukan pelakunya dan aku tidak mau tahu dengan urusannya. sementara dia bertahan meminta aku membayar kerusakan yang diderita. tangannya mulai mendorong tubuhku. aku tak terima namun masih bisa sabar. pelayan dan beberapa orang pedagang sudah di sekeliling kami. saat itulah marahku tak tertahan. saat ia menunjuk-nunjuk mukaku. tangan kananku melayang menuju kepalanya. prak! gelas teh manis hangat yang setengah penuh bertumbukan dengan kepala lelaki itu. ia kaget dan menjauh sambil memegangi dahi. darah mengalir. sedikit. makin banyak. mungkin hendak membalas, ia melompat ke arahku. aku siap menyambut dengan beling tajam sisa gelas yang terpecah tadi. tepat saat itu seorang laki-laki menyeruak dan melerai kami. wajahnya berkelebat di tumpukan kenangan.

wajah yang akrab namun terpisah saat aku berumur 10 tahun: adik angkatku!

(bersambung, entah kapan…)

untitled

di lautan asmara
gelombang rindu menyapu
pada batu karang kesetiaan
tersisa pasir penantian

di pantai kemesraan
membadai kenangan
menjilati bersama pasang laut
mencumbu lumut birahi
meniti buih

saat purnama
kau tiba

karena begitulah
aku garam putih
tak mungkin pisah
dari laut birumu

(senopati pamungkas – arswendo)