menjadi matahari

dari mata, indera pertama yang aku amati dari tiap manusia, turun ke hati. katanya.

aku bukan orang yang bisa meramal lewat sepotong gambar atau kalimat datar. aku lebih menyukai mata bertemu kata bernada. lalu kita bicara dalam jarak satu depa kurang, tergelak-gelak, meminta waktu tambahan menunda pulang walau pagi belum datang. mata bulat kecil memesona membuatku berpaling muka. pelontar lagu-lagu syahdu. melihat semua berbeda.

mata itu
lingkar tak sempurna beragam titik melahirkan putik,

konstanta yang luput dari \pi\,\!,
padupadan zat-zat kimia bebas sempadan,
nebula tempat singgah perjalanan antarkartika.

inginku menjadi matahari, bergelincir, tenggelam, setiap hari, terpejam, mengisi jeda tiap sibuk yang kau lewati. matahari yang sinarnya tak melumat awan mendung masa lalu, tak juga hilang oleh bulan. bertelut dalam mata bulat kecilmu.

inginku nikmati mata itu lagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.