aku pernah amat berharap dan percaya padamu
seiring waktu mengenal dirimu
aku mendapati luka yang lalu
sudah ku coba berkali-kali
aku tidak bisa meredam suara hati
ibu sudah wanti-wanti agar aku lebih hati-hati dan tidak tersakiti lagi
aku pernah amat berharap dan percaya padamu
seiring waktu mengenal dirimu
aku mendapati luka yang lalu
sudah ku coba berkali-kali
aku tidak bisa meredam suara hati
ibu sudah wanti-wanti agar aku lebih hati-hati dan tidak tersakiti lagi
semua harus berakhir; lakukan dengan cepat, tanpa suara, tak ada perlu orang yang tahu, dan biarkan aku terkapar sendiri menikmati sakitnya.
I believe that everything happens for a reason. People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.
Who said it? Marilyn Monroe did.
bukan sebuah kejutan besar yang melibatkan banyak orang dan kemeriahan,
tak ada kue istimewa atau tiupan terompet,
taburan confetti,
dengan nada warna-warni.
hanya aku,
membawa kotak kecil
diiringi angin malam,
nada sumbang
dan korek api,
meletakkan niat baru di jarimu.
seorang teman pernah mengingatkan, berani bercinta harus pula berani merasakan sakitnya. aku melawan, jika memang cinta, mengapa harus melukai? dia menjawab, karena kita manusia yang tidak sempurna.
memang bukan cinta yang menyakiti, lanjutnya. rasa cinta yang mengisi relung hati dan dipenuhi bahagia seringkali membuat lupa akan ketidaksempurnaan orang lain; pasangan kita. begitu ada perih terasa lebih menyayat dibanding orang-yang-bukan-siapa-siapa yang melakukannya. ada pengharapan untuk hanya merasakan bahagia, menjadi pasangan yang sempurna. padahal rasa tak cuma bahagia. padahal sempurna hanya ada di dongeng. kita hidup di dunia nyata bersama manusia berbagai rupa.
jadi, jangan berani bercinta jika kau tidak siap melewati sakitnya.
nanti adalah wujud nyata
deretan mimpi-mimpi
beserta harapan
dan kepastian masa lalu
langit biru
dalam taman bunga
yang belum tentu semuanya
dapat hadir bersamaan;
atau malah beberapa tak pernah datang
kamu menjelma udara
terus kuhirup tanpa jeda
hingga terpisah jiwa dan raga
kau datang
dengan sejumlah bunga pilihan
sementara aku
memilih berkendara langit biru
bersama kita hiasi angkasa
dengan tamanmu
sambil berlarian
bertumpu awan
beberapa bagian membuat tawa
beberapa bagian lain memanggil airmata
beberapa lagi memaksaku terdiam;
lupa bahwa kita pernah terpisah
masing-masing
membawa masa lalu yang penuh kepastian
terombang-ambing
menyeret dua mahluk pada satu pertemuan
hanya butuh dua spasi dan sebuah konjungsi untuk memisahkan aku dan kamu
tetapi tidak dengan kita
aku bukan kamu; kamu tak bisa menjelma aku
ada kita yang harus terus dijaga
yang ingin selalu bersama
kita yang tercipta dari aku dan kamu menyatu
kita tak boleh sama
perbedaanlah yang membawaku ke arahmu
aku melihatmu tak lain adalah kamu
dan kita:
dua manusia bertemu pada satu titik waktu untuk bergandeng tangan menyusuri jalan penuh rintangan menyambut akhir kehidupan yang entah kapan membawa kita menuju yang sejati