realita

percayalah, semua terjadi bukan tanpa alasan. betapa mudahnya kita lupa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sesungguhnya bukanlah bagaimana kita menerimanya; tetapi dari apa yang diberikan maha sejati, sejauh mana kita bisa menyadari dan menjalaninya.

selasa kesepuluh: kami bicara tentang perkawinan

ada beberapa aturan yang menurutku berlaku untuk cinta dan perkawinan:

kalau kita tidak menghormati pihak yang lain, kita akan mendapatkan banyak masalah

kalau kita tidak tahu cara berkompromi, kita akan mendapatkan banyak masalah

kalau kita tidak mampu bicara terbuka tentang apa pun yang terjadi di antara kita dan pasangan, kita akan mendapatkan banyak masalah

dan kalau kita tidak memiliki seperangkat nilai yang kita sepakati dalam hidup, kita juga akan mendapatkan banyak masalah

yang paling penting dari semua itu adalah keyakinan betapa pentingnya cinta/ perkawinan kita

saling mencintai atau punah

(tuesdays with morrie, halaman 158, dengan sedikit edit)

terlalu nyaman

bertahun sudah aku berada di tempat ini. nyaris tanpa geliat. terima saja semua. berusaha maksimalkan waktu yang ada.

ya, waktu. waktu berjalan dengan cuek, tak pernah bertanya apa kabarku. atau aku yang terbenam dengan suasana?

terasa degdegan saat ku menggeliat kecil. nyaris tak berani menapakkan langkah. tapi ya… harus dipaksa.

usaha dan doa. semoga tikungan yang tepat. dan semoga berhasil di tikungan berikutnya

konflik

bukan untuk dihindari.

mari kita bicara, beradu argumen dengan positif, mencari apa yang sama dan beda, hingga kita melaluinya dengan senyuman.

23:12

yes, i did it

ada putu, ada samatha, ada taliwang

brotherhood, asap dan debu, tidur sembarang

dan ada kita

eh ada vitri juga

1600 kilometer untuk menemuimu

dan 1600 kilometer untuk kembali

bikin pantat makin tepos

sepotong

memang kue yang hanya sepotong, kecil pula, tak cukup memuaskan keinginanku. demikian pula kalimat terucap yang hanya sebagian bahkan samar.

jangan salahkan mereka yang menikmati. tunjukkan jarimu pada yang hanya sedikit berbagi.

sungguh cerdas

potongan berita di satu tv yang aku dengar (ya, beberapa tahun terakhir aku tak terbiasa menonton tv, tapi kadang mendengar siarannya dari ruang sebelah) beberapa hari setelah penyergapan di temanggung itu.

penyiar satu tv: apakah bapak pernah menjumpai orang yang wajahnya mirip dengan sketsa n.m.t. yang disebarkan oleh petugas berkeliaran di sekitar sini?

bapak: wah ga pernah tuh, sama sekali ga ada.

penonton berpikir keras: andai petugas saja yang istilah kata seluruh hidupnya diupayakan untuk membuntuti orang itu kesulitan untuk menemukan sosoknya, bagaimana mungkin seorang warga bisa dengan mudah mengenalinya? lagipula, apa mungkin dia berkeliaran? oh sungguh pertanyaan yang cerdas!