jangan diam

setelah kasus prita mencuat ke permukaan disusul kasus-kasus lainnya, terutama perihal pencemaran nama baik dan uu ite, apakah kita masih berani menulis untuk menyuarakan berbagai hal yang dirasa mengganggu di lingkungan sekitar? mulai dari pelayan yang buruk, produk barang yang tidak sesuai janji, atau bahkan peristiwa sosial di dekat kita? masihkah kita peka?

ancaman jeratan hukum itu jelas ada. tapi apakah kemudian kita harus diam? saat hak kita dirampas, kita akan bungkam? menurutku bukan itu jawabnya. mereka ingin data dan fakta; berikan! main cantik. dan pintar. saat ada kesewenangan: lawan!

menurut lo?

4 thoughts on “jangan diam”

  1. Data dan fakta..hm, itu yang susah, Ed. Tapi gw yakin Tuhan pasti punya alasan bagus kenapa uji materi UU ITE kemaren ditolak. Mungkin coz batas antara kritik dan tuduhan tak berdasar itu masih terlalu tipis.

  2. Udah tahu kasus yang terbaru? Guru SMK di Sulawesi (kali ini dari Facebook) yang menulis dugaan bahwa pemko melakukan korupsi, dituntut karena dianggap melakukan pencemaran nama baik.

    Menurutku, masalah tulisan di dunia maya ini, jangan terlalu dibesar-besarkan. Bisa jadi, setelah komentar di internet itu dibawa ke hukum, masalah yang tersembunyi jadi besar. Jadi perhatian. Coba seandainya pihak-pihak yang dikritik ‘membiarkan’ saja tulisan itu. Toh, hanya kritik, kan belum tentu ada yang menanggapi. Pasti kredibilitasnya tidak akan hancur sebesar sekarang.

    Memangnya, sesakti apa sih satu kritik yang dituliskan di internet, sehingga bisa menggoyahkan sebuah lembaga/produk/jasa?? Kecuali kalau yang mengkritik itu seluruh rakyat Indonesia…

    Yah, biarkan saja. Atau selesaikan langsung dengan individunya. Kan beres. Jadi, seluruh masyarakat Indonesia tidak harus ikut menuding-nuding dan memperbesar masalah kan? ^_^

    Salam kenal

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.